Feel free to email us at panehmiang@ymail.com.

Friday, August 14, 2009

Sensitive Matters Amendment

One of the most controversial amendments in Malaysia’s Constitution is the Constitution (Amendment) Act, 1971, which came in the wake of the May 13, 1969 racial riots.

Known as the “Sensitive Matters Amendment,” it revised Article 10 – which safeguards freedom of speech – to empower Parliament to pass laws to restrict public discussion on four “sensitive” issues: citizenship; the national language and the languages of other communities; the special position and privileges of the Malays and natives of the Borneo states, and the legitimate interests of other communities; and the rulers’ sovereignty.

Before the Act, the Conference of Rulers’ consent was required only for amendments to provisions related to the rulers, and the special rights and privileges of the Malays and the legitimate interests of other communities.

As a result of the Act, consent was also required for other provisions, such as Article 10 (freedom of speech), Article 63 (privileges of Parliament), Article 72(privileges of the state legislative assembly) and Article 152 (national language).

Article 153 originally provided for the Yang di-Pertuan Agong to be the guardian of the special position of the Malays and the legitimate interests of other communities. It also empowered him to ensure that a reasonable proportion of opportunities was reserved for the Malays in public service, education, and for permits and licences.

The 1971 amendment allowed the natives of the Borneo states to have the same status as the Malays.

It also empowered the Agong to direct any institution of higher learning to reserve a reasonable proportion of places for the Malays and natives, should the number of places be less than the number of qualified candidates.

Source: Malaysia's Constitution Journal / The Sun.

No comments:

Post a Comment

Surah Al-Baqarah, Ayat 120

"Bukan orang Yahudi, ataupun Nasrani yang akan menerimamu, melainkan jika kamu mengikut agama mereka. Katakan,"Hanya petunjuk Allah sahaja yang benar" Jika kamu menyetujui kehendak mereka, setelah kamu menerima ilmu pengetahuan, kamu akan dapati tidak ada satu perjanjian ataupun penyokong dapat menolongmu dari Allah."

Surah Al-Baqarah, Ayat 216

"Kamu diwajibkan berperang (untuk menentang pencerobohan) sedang peperangan itu ialah perkara yang kamu benci; dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah Yang mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya."

Surah Al-Imran, Ayat 28

"Janganlah orang-orang yang beriman mengambil orang- orang kafir menjadi teman rapat dengan meninggalkan orang-orang yang beriman. Dan sesiapa yang melakukan (larangan) yang demikian maka tiadalah ia (mendapat perlindungan) dari Allah dalam sesuatu apapun, kecuali kamu hendak menjaga diri daripada sesuatu bahaya yang ditakuti dari pihak mereka (yang kafir itu). Dan Allah perintahkan supaya kamu beringat-ingat terhadap kekuasaan diriNya (menyeksa kamu). Dan kepada Allah jualah tempat kembali."

Surah Al-An'aam, Ayat 67

"Tiap-tiap khabar berita mempunyai masa yang menentukannya (yang membuktikan benarnya atau dustanya); dan kamu akan mengetahuinya."

Surah Ar-Ra'd, Ayat 11

"Bagi tiap-tiap seorang ada malaikat penjaganya silih berganti dari hadapannya dan dari belakangnya, yang mengawas dan menjaganya (dari sesuatu bahaya) dengan perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripadaNya."

Blog Archive